Saturday, February 1, 2014

004.13.517 - NAMAMU DISEBUT-SEBUT, DIPANGGIL-PANGGIL "YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOH"

XIII. 13.517 "PUISI, MUTIARA KATA DAN LAGU-LAGU ISLAMI"

SAJAK – YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOH
NAMAMU DISEBUT-SEBUT, DIPANGGIL-PANGGIL "YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOH" (Wahai Pemimpin kami Wahai Utusan Alloh !)

Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh
Sungguh agung nama-Mu wahai Nabi pemimpinku !
Nama-Mu Yaa Sayyidii Yaa Rasulalloh diabadikan Tuhan sepanjang zaman
Menunjukkan betapa mulianya Engkau di sisi Tuhan di dunia dan di Akhirat
Tuhan promosikan Engkau, hingga Engkau di bibir mulut manusia
Nama Tuhan dan nama-Mu digandingkan sama
Disebut nama Tuhan maka disebut nama-Mu juga yaa Rosuulalloh
Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh

Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh
Setiap orang yang hendak masuk Islam 
Nama Tuhan dan nama-Mu disebut di dalam dua kalimah syahadah
Nama-Mu disebut di dalam doa selepas wudhu
Nama-Mu juga disebut di dalam doa selepas adzan dan iqamah
Nama-Mu disebut di dalam sebarang doa agar dikabulkan permohonan
Sungguh mulia Engkau, nama-Mu disebut di mana-mana saja
Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh

Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh
Di dalam sembahyang namamu disebut ketika tahiyyat
Jika tidak disebut tidak sah solatnya
Belum lagi pencinta-pencinta Engkau yang mabuk dengan Engkau
Mereka lebih-lebih banyak lagi menyebut nama Engkau
Engkau disebut di dalam sholawat
Sebelum sembahyang, selepas sembahyang, di dalam sembahyang, ketika berkholwat, ketika bermujahadah, ketika senang, ketika susah
Setiap yang berzikir namamu mesti disebut orang berulang kali
Seolah-olah engkau masih hidup di dunia ini
Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh

Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh
Yaa Nabi nama-Mu sungguh harum semerbak mewangi
Nama-Mu hidup sekalipun jasad-Mu sudah dikebumikan
Apa saja upacara Islam nama-Mu mesti disebut-sebut
Di dalam khutbah nama-Mu disebut oleh khatib di atas mimbar
Apalagi di masa maulid-Mu, sholawat berkumandang tidak jemu-jemu
Seolah-olah Engkau hadir, dan memang hadir secara pribadi bersama di majlis itu
Seolah-olah Engkau masih hidup bersama kami atau mereka
Begitulah cintanya Tuhan kepadamu yaa Rosuulalloh 
Hingga nama-Mu disebut-sebut, dipangil-panggil bahkan setiap saat dan waktu
Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh

Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh
Tuhan mensholawatkan-Mu, para Malaikatpun juga begitu
Orang mukmin juga diperintahkankan mensholawatkan-Mu selalu 
Hingga tidak ada ruang dan masa yang kosong yang tidak disebut nama-Mu
Nama-Mu disebut-sebut dan dipanggil-panggil di langit dan di bumi
Begitulah kehormatan yang Engkau perolehi dari Tuhan-Mu
Belum lagi menyebut-nyebut peribadi, sikap dan perbuatan-Mu
Engkau adalah contoh segala contoh dan ikutan di dalam sebarang hal
Contoh dan ikutan yang tidak ada tandingan dalam segala zaman
Semua orang sebelum kelahiran-Mu maupun setelah kelahiran-Mu
Engkau memanglah Sohibuzzman
Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh

Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh
Engkau adalah bapa haqiqi bagi seluruh keluarga dan manusia
Engkau didik mereka mencintai Tuhan dan Akhirat
Mereka jual dunia untuk Akhirat mereka
Engkau adalah laksana ibu tempat bermanja yang tiada taranya
Tempat mengadu, tempat meminta syafaat, tempat mencurahkan perasaan
Guru yang luarbiasa, pemimpin sejati yang mengasihi dan dikasihi
Engkau adalah kawan setia bahkan mengutamakan kawan setiap masa
Di waktu musafir, ketika bermukim, Engkau khidmati mereka
Engkau jiran yang baik, engkau anggap jiran, Engkau adalah keluarga
Kehormatan mereka Engkau jaga, kesusahan mereka Engkau bela
Anak-anak yatim, fakir miskin, janda-janda Engkau hiburkan, mereka terhibur
Engkau sering bersahaja bersama mereka, mereka bangga
Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh

Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh
Kejahatan orang Engkau balas dengan kebaikan
Engkau pemaaf, menerima keuzuran, ziarah orang sakit, mengiringi jenazah
Engkau pemurah, ibadah-Mu banyak, suka berkhidmat kepada orang
Setiap kebaikan yang Engkau ucapkan Engkau perbuat, Engkau praktekkan
Engkau sangat mencintai Tuhan dan Akhirat
Para tetamu Engkau sangat hormati dan Engkau menjaga keperluan mereka
Janji Engkau tepati, hutang orang Engkau bayarkan
Kesabaran Engkau sangat nyata, tawakal Engkau menjadi budaya, keberanian Engkau tidak ada tara, kasih sayang Engkau selau Engkau tunjukkan
Engkau sangat lemah lembut, tidak keras tetapi tegas
Engkau mesra dengan orang, peramah, pemurah tiada tara
Engkau tidak mengumpat, tidak menghina dan tidak mengecewakan
Akhlak Engkau tinggi, wibawa Engkau luarbiasa
Musuh-musuh Engkau mengakui keluhuran budi sekalipun mereka benci
Pada diri engkau ada segala contoh-contoh bagi setiap golongan manusia
Kalau seorang guru Engkaulah contohnya, kalau seorang pemimpin Engkaulah ikutannya, Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh

Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh
Jika seorang bapa atau ibu Engkaulah suri teladannya
Jika seorang suami Engkaulah patut ditiru
Sekiranya seorang kawan Engkaulah contohnya
Jika seorang ulama Engkaulah contoh terbaik bagi ulama
Kalau seorang mubaligh Engkaulah tempat rujukannya
Jika seorang pejuang Engkaulah tempat ukurannya
Engkau tidak payah ditonjol-tonjol memang Engkau sudah tertonjol
Engkau tidak payah berlakon-lakon membuat baik, engkau memang orang yang terbaik, Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh

Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh
Engkau tidak perlu berpura-pura baik memang sikap Engkau sudah baik dan terdidik
Engkau tidak payah meminta disanjung, karna semua orang telah menyanjung Engkau tanpa diminta, yaa Sayyidii yaa Rosuulalloh
Dunia hari ini memerlukan pemimpin, guru, bapa, ibu, mubaligh, pejuang, suami, kawan, peniaga bayangan-Mu yaa Rosuulalloh
Hari ini sebagian besar golongan bukan bayangan-Mu lagi yaa Rosuulalloh
Kerana itulah dunia hari ini huru-hara, haru-biru, krisis berlaku, pergaduhan, penyalah gunaan, peperangan, permusuhan , kerusakan di daratan di lautan,
Berlakulah kebimbangan dan ketakutan, maka syafaatilah kami yaa Rosuulalloh
Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh

Allahummasalli ‘ala Saiyidina Muhammad wa ‘ala ali Saiyidina Muhammad
Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh !.
006.01.317 - PENYIARAN SHOLAWAT WAHIDIYAH

I. 01. 317 "BAHASAN UTAMA - KULIAH WAHIDIYAH"

Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah di samping kita amalkan sendiri sekeluarga supaya disiarkan kepada masyarakat luas tanpa pandang bulu, tidak pilih-pilih. Siapa saja, golongan apa saja, dari tingkatan bagaimanapun juga, dari agama dan bangsa mana saja, pokoknya dari lapisan masyarakat yang bagaimanapun supaya diajak mengamalkan Sho­lawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah!.

Dasar penyiaran “tidak pandang bulu” ini antara lain mengikuti jejak Rosuululloh SAW yang ke-Rosulannya meliputi seluruh ummat manusia sebagai firman Alloh :

Artinya kurang lebih:
"Dan tiada KAMI mengutus Engkau (Muhammad) melainkan untuk ummat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (34:Saba': 28)

Artinya kurang lebih :
"Dan tiada KAMI mengutus Engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam " (21-Al Anbiyaa : 107)

Setiap manusia dari bangsa apa saja dan dari tingkatan manapun juga pasti ingin kepada kejernihan hati, ketenangan batin dan ketentraman jiwa untuk membangun kehidupan yang selamat sejahtera dan bahagia lahir batin di dunia sampai di akhirot.
Sholawat Wahidiyah, Alhamdu Lillah sebagaimana terbukti dalam kenyataan yang dialami oleh para Pengamalnya Alhamdu Lillah dikaruniai atsar (manfaat) terutama berupa kejernihan hati, ketenangan batin dan ketentraman jiwa yang dibutuhkan oleh setiap orang tersebut. Dan di samping itu juga dikaruniai kebaikan-kebaikan dan manfaat-manfaat yang tidak sedikit macamnya. Bermacam-macam kesulitan, kesusahan dan kebingungan dalam berbagai bentuk problem hidup soal ekonomi, soal keluarga dan rumah tangga, soal kesehatan, soal pekerjaan, soal pendidikan dan lain-lain banyak yang dikaruniai mendapatkan jalan keluar dengan sebabiyah mengamalkan Sholawat Wahidiyah. Maka sudah seharusnyalah Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah disiarkan kepada masyarakat luas tanpa pilih bulu tersebut, oleh karena secara manusiawi setiap orang membutuhkannya.

Maka dari itu diserukan kepada terutama para yang sudah mengamalkan Sholawat Wahidiyah dan umumnya kepada siapa saja yang mengetahui agar supaya Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah disiar­kan kepada masyarakat luas dengan ikhlas tanpa pamrih dan dengan bijaksana!. Dengan ikhlas tanpa pamrih, baik pamrih yang bersifat moril lebih-lebih pamrih dalam bentuk materiil. Memungut imbalan jasa berupa apa saja dengan dalih apapun atas penyerahan Lembaran Sholawat Wahidiyah sama sekali dilarang tidak dibenarkan oleh Muallif Sholawat Wahi­diyah. Menyiarkan dengan bijaksana, artinya harus disertai keterangan dan penjelasan secukupnya sesuai situasi dan kondisi agar tidak timbul salah paham lebih-lebih menjadi heboh di kalangan masyarakat.

Penyiaran Wahidiyah harus dilaksanakan secara lahir dan secara batin. Secara lahir dengan memberikan keterangan dan penjelasan-penjelasan seperti di atas, dan secara batin dengan memohonkan kepada Alloh SWT semoga dibukakan pintu hati kita dan diberikan hidayah taufiq sebanyak-banyaknya. Yang disiarkan adalah ya Sholawat Wahidiyahnya ya Ajaran Wahidiyah. Atau salah satu yang dimampuinya.
Firman Alloh dalam Al Qur'an:

Artinya kurang lebih:
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang mengajak kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung". (3-Ati Imron: 104).

Di dalam Al Qur'an Terjemahan Departemen Agama RI diterangkan bahwa "Ma'ruf ialah segala perbuatan yang mendekatkan kepada Alloh, dan "Mungkar" ialah perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-NYA. Dan Alhamdu Lillah Sholawat Wahidiyah sekali lagi berdasarkan pengalaman nyata boleh dikatakan sebagai "sarana" untuk mendekatkan diri kepada Alloh dan sekaligus menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Alloh. Dengan kata lain sarana untuk menuju yang ma'ruf dan meninggalkan yang mungkar sekaligus. Bersabda Rosululloh SAW:

"Menyuruhlah (mengajaklah) kamu sekalian kepada yang ma'ruf sekalipun engkau belum mengerjakannya, dan mencegahlah dari yang mungkar sekalipun engkau belum menjauhinya". (Hadits Shoheh riwayat Thobroni dari Anas bin Malik)

Dikatakan lagi dengan Hadits Shoheh Bukhori:

"Sampaikanlah (kepada masyarakat) apa yang kamu sekalian peroleh dari pada-Ku sekalipun hanya satu ayat". (Diriwayatkan oleh Bukhori dan Thirmidzi dari Ibnu Umar).

Dengan menyiarkan Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah mudah-mudahan kita termasuk sabda Hadits:

"Barang siapa yang menjadi sebabnya orang menjadi islam atas usahanya, wajiblah baginya masuk surga" (Riwayat Thobroni dari 'Uqobah bin Amir,).

"Barang siapa yang menunjukkan kepada kebajikan maka bagi­nya mendapat pahala seperti pahalanya orang mengerjakan keba­jikan tersebut". (Riwayat Ahmad dan Muslim dan Thirmidzi dari Ibnu Mas 'ud).

"Berbahagialah orang-orang yang membuat maslahad di antara ummat manusia; mereka adalah orang-orang yang dekat kepada Alloh besok pada Hari Kiamat".
Menyiarkan Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah bukanlah pekerjaan yang berat dan tidak diperlukan adanya syarat-syarat yang be­rat pula. Yang penting siapa ada kemauan pasti akan menemukan jalan. Secara umum setiap Pengamal Wahidiyah dan siapa saja yang ada kemauan diberi kemampuan untuk menyiarkannya. Sebaliknya apabila ti­dak menyiarkan padahal ada kemampuan, lebih-lebih kita bersikap apatis masa bodoh tidak tahu menahu, sangat dikhawatirkan termasuk yang diancam oleh Alloh SWT dengan firman-NYA. :

Artinya kurang lebih:
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah KAMI turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk, setelah KAMI menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab. mereka itu dila'nat Alloh dan dila'nati (pula) oleh semua (makhluq) yang dapat mela'nati", (2-Al Baqoroh: 159).

Begitu keras peringatan Alloh terhadap orang-orang yang tidak mau ikut berusaha mengadakan perbaikan bagi ummat dan masyarakat. Tetapi untung masih ada pengecualiannya, yaitu bagi mereka yang mau memperbaiki kekurangan dan kenegatifan dirinya kemudian merubah sikap. Ya itu sebagaimana firman Alloh dalam Ayat berikutnya :

Artinya kurang lebih:
"Kecuali mereka yang bertobat dan mengadakan perbaikan serta memberikan penerangan (tentang kebenaran); maka terhadap mereka itulah KAMI menerima tobatnya, dan AKU-lah yang Ma­ha Penerima tobat lagi Maha Penyayang " (2 - Al Baqoroh : 160)

Juga Rosuululloh SAW memberikan peringatan dengan sabda-Nya antara lain:

"Bukan dari golongan Kami orang yang tidak mau memperhatikan keadaan ummat masyarakat Muslimin ".

"Barang siapa yang tidak mau memperhatikan keadaan ummat masyarakat Muslimin, maka bukanlah ia dari golongan kaum Muslimin " (Riwayat Thobroni dari Hudzaifah)...........

MASALAH GARANSI ATAU PERTANGGUNGJAWABAN
Setiap orang pasti akan dimintai pertanggung jawabannya sendiri-sendiri atas segala perbuatan yang ia lakukan. Baik di dunia lebih-lebih besok di akhirot. Di akhirot semua orang harus mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya ketika hidup di dunia. Baik perbuatan atau amal ibadah yang berhubungan secara langsung kepada Allow SWT Wa Rosuulihi SAW, maupun yang berhubungan di dalam masyarakat, terhadap sesama makhluq pada umumnya. Firman Alloh menegaskan:

Artinya kurang lebih :
"Dan pasti, sungguh, kamu sekalian akan ditanya (diminta pertanggungjawaban) dari apa yang telah kamu sekalian perbuat", (16:An-Nahl: 93)

Dan Rosululloh SAW juga telah memperingatkan:

"Setiap kamu sekalian adalah penggembala/pemimpin dan setiap kamu sekalian (dalam suatu riwayat: dan tiap-tiap pemimpin) dipertanyakan tentang pimpinannya".
Jadi tentang pertanggung jawaban orang seorang, baik itu dinyatakan ataupun tidak dinyatakan, mau tidak mau tiap-tiap orang pasti akan mengalami permintaan pertanggung jawaban apa saja yang ia lakukan dan dalam hubungan tanggung jawab yang bagaimanapun. Dipertanyakan, baik di dunia lebih-lebih besok di akhirot. Agama, bangsa, negara, keluarga, orang tua, anak, guru, murid, pemimpin, yang dipimpin, Pemerintah. rakyat, komandan, anak buah, majikan, buruh, kawan dan kenalan, . . . pokoknya apa dan siapa saja yang ada hubungan hak dan kewajiban, hak moril maupun hak materiil, semua-semua itu ada hak untuk menuntut tanggung jawab terhadap siapa siapa yang bersangkutan dari bermacam-macam segi dan jurusan, di samping permintaan pertanggung jawaban dari Alloh SWT sendiri dan dari Rosululloh SAW.

Maka dari itu kita harus senantiasa mawas diri dalam segala tindakan dan apa saja yang kita lakukan lahir ataupun gerak gerik batin hati kita, harus berani dan mampu mempertanggungjawabkan dengan dasar-dasar dan alasan yang kuat yang dapat dipertanggungjawabkan. Baik ter­hadap sesama makhluq, lebih-lebih terhadap Alloh SWT yang Maha Mengetahui segala macam tingkah laku manusia baik yang lahir maupun yang batin. Bersabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam :

"Koreksilah dirimu sebelum kamu dikoreksi"

Di dalam Lembaran Sholawat Wahidiyah yang diedarkan kepada masyarakat dengan cuma-cuma itu pada tahun-tahun pertama penyiaran yaitu sekitar tahun 1964 - 1968 tertulis kata-kata dalam bahasa jawa huruf Arab Pego :

"MENAWI SAMPUN JANGKEP 40 DINTEN BOTEN WONTEN
PEROBAHAN MANAH, KINGING DIPUN TUNTUT DUNYAN
WAN UKHRON. KEDUNGLO KEDIRI.

Indonesianya :
"Jika sudah cukup pengamalan 40 hari tidak ada perobahan dalam hati, boleh dituntut dunia maupun akhirot. Kedunglo Kediri".

Kata-kata tersebut ada sebagian orang salah menafsirkan dengan mengganti pemahaman menjadi: "Barang siapa mengamalkan Sholawat Wahidiyah dijamin masuk surga". Jelas merupakan pemahaman yang jauh bertentangan dengan makna sebenarnya.

Kata-kata pertanggungjawaban tersebut memberikan ajaran atau sekurang-kurangnya mengandung sindiran agar supaya kita meningkatkan rasa tanggung jawab dengan segala konsekwensinya apa saja yang kita lakukan. Dengan bahasa yang populer: berani berbuat harus berani tang­gungjawab.

Catatan: Kata-kata pertanggungjawaban seperti di atas kini sudah tidak dicantumkan lagi di dalam Lembaran Sholawat Wahidiyah. Akan tetapi ini tidak berarti mengurangi lebih-lebih lepas tangan dari tanggung jawab terhadap siapa saja yang sudah mengamalkan Sholawat Wahidiyah 40 ha­ri. Tidak dicantumkannya lagi itu karena alasan teknis pengaturan format Lembaran.
Adapun alasan dan dasar mencantumkan kata-kata pertanggung­jawaban tersebut (sebagian orang menyebutnya “garansi") di dalam Lem­baran Sholawat Wahidiyah, di samping motif penyiaran dan rasa tang­gungjawab seperti diatas, antara lain adalah dasar "husnudh-dhon". Pertama, husnudh-dhon bahkan husnul-yaqin bahwa Alloh SWT mengijabahi doa sholawat hamba-NYA. Bersabda Rosululloh SAW:

"Jika kamu sekalian berdoa maka berkeyakinanlah Alloh SWT mengabulkannya"

"Berdoalah kepada Alloh, sedangkan kamu sekalian meyakini (doamu) diijabahi.(Riwayat Thirmidzi dari Abu Huroiroh)

Kedua. husnudh-dhon bahkan husnul-yaqin kepada Rosululloh SWA pasti mengulurkan syafa'atnya kepada ummat yang membaca sho­lawat. Bersabda Rosululloh SAW:

"Barang siapa membaca sholawat kepada-Ku tiap hari 100 kali, Alloh menuliskan baginya sebab bacaan sholawat itu sejuta kebaikan, dan menghapus dari padanya sejuta keburukan, dan menuliskan baginya seratus shodaqoh yang makbul Dan barang siapa mem­baca sholawat kepada-Ku kemudian sholawat itu sampai kepada-Ku, maka Aku membaca sholawat kepadanya dan ia memperoleh syafa'at-Ku".
(Hadits disebutkan oleh Abu Sa'iid di dalam kitab Syaroful-Musthofa dari Anas bin Malik. Hadits Marfu').

Husnudh-dhon yang ke tiga, husnudh-dhon kepada para Malaikat yang pasti memohonkan rohmat dan maghfiroh bagi orang-orang yang membaca sholawat.

Husnudh-dhon yang ke empat, husnudh-dhon kepada siapa saja yang mengamalkan Sholawat Wahidiyah. Mereka pasti bersungguh-sungguh di dalam tadlorru' berdepe-depe memohon taufiq hidayah, fadlol dan rohmat Alloh SWT, memohon syafa'at tarbiyah Rosululloh SAW, memohon barokah doa restu kepada Ghoutsu Hadzaz Zaman wa A'waanihi wa Saairi Auliyaa Alloh Rodiyallohu Ta'ala 'anhum.
Kemudian di samping dasar alasan husnudh-dhon, pencantuman kata-kata pertanggungjawaban tersebut adalah untuk lebih memudahkan bagi masyarakat terutama Instansi Pemerintah yang memerlukan hubungan.

جَعَلَناَالله ُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الَّذِيْنَ يَسْفَعُ لَهُمْ وَيُرَبِّيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم شَفاَ عَةً وَتَرْبِيَةً خاَصَّتَيْنِ فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وِاْلآخِرَةْ . آمِينْ آمِينْ آمِينْ يَارَبَّ الْعَالَمِينْ وَالْحَمْدُللهِ رَبِّ الْعَالَمِينْ

"Semoga Alloh SWT menjadikan kita semua termasuk golongan orang-orang yang oleh Rosuululloh SAW diberikan syafa'at dan tarbiyah yang khusus di dalam soal agama, soal dunia dan soal akhirot!. Amiin ! Amiin ! Amiin! Yaa Robbal 'Alamiin Walhamdu Lillahi Robbil 'Alamiin".
3Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · Bagikan · Promosikan
Hury Reog, Heri Cahyono, Sutisna Tisna dan 9 lainnya menyukai ini.

Ahmad Dimyathi YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOH, YAA SAYYIDII YAA AYYUHAL GHOUTS....wes dibuka' krane....Maqom Ijabah.... yg mau buwuh hadir like silakan, mau komentar, mau membaca, mau bertanya, mau berbagi ilmu dan pengalaman dan yang suka ngasih tanda jempol ... semuanya aja MUGO2 rezekine diparingi luas, mudah, banyak melimpah ruah lan berkah, cita-citane berhasil sukses diijabah, mugo2 diparingi kejernihan hati, kecerdasan akal, ketinggian budi lan ilmu sing manfaat serta ma'rifat billah wa Rosuulihi SAw wa Ghoutsi Hadzaz zaman ra sing sempurno, amiin.... alfatikah 1x (mujahadah), maafkan sy ya..... salam perjuangan fafirruu... lan salam sejatera sllu tuk kita semua.... amiin !.
005.07.40 - PENGUMUMAN  ADMIN - JAM SOWAN KANJENG ROMO YAHI RA  - Paman San's

VII. 07. 40 "PENGUMUMAN DAN PERINGATAN ADMIN"

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Assalamu 'alaikum wr. wb. 

Berdasarkan dawuh Kanjeng Romo Yahi Ra tgl 16 Des 2013
di beritahukan kepada seluruh PW dan
pengamal Wahidiyah dimana aja berada, bagi
yang hendak sowan kepangkuan Kanjeng Romo KH. Abdul Latif
Madjid RA - Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedungo Al-Munadhoroh, baik itu sowan pribadi maupun
sowan untuk perjuangan, di anjurkan pada jam
kantor ( jam dinas) Kanjeng Romo Yahi Ra, jam 08.00
s/d 12.00 wib dan untuk sore dan malam
tidak diperkenankan sowan.
Mohon dawuh ini di sampaikan ke PW dan pengamal pada umumnya
Mksih dan Jazaa kumulloohu khoirooti wa sa'aadaatid dun-ya wal aakhiroh. Amiin !

Wassalamu'alaikum wr, wb.

Ahmad Dimyathi
15:11
Ahmad Dimyathi
WA'ALAIKUM SALAM WR. WB. OK, MKSIH INFONYA Paman San's....
JAZAA KUMULLOH....AMIIN.....Fafirruu Ilalloh !!!,
Suka · · Bagikan · Berhenti Mengikuti Kiriman · 16 Desember pukul 15:37
AnNa AZzah, Cak Habi Arek Dholim, Heri Cahyono dan 27 lainnya menyukai ini.
6 berbagi

Nadia Firna Putri Wa'alaikumsalam wr wb. Trimakasi infonya. .
16 Desember pukul 15:43 melalui seluler · Suka · 1

Raden Batulawang Waalaikum salam wrwb ..Trimakasih InfO nya pak Yai,,,salam silaturrahim
16 Desember pukul 16:57 · Suka · 1

Yusyuf Aremania Itajes Ongisiras jazakumull0hu.
16 Desember pukul 17:26 melalui seluler · Suka

Fafirruu Ilallaah Subhanallaah... Yaa Sayyidii... Yaa Ayyuhal Qausz...
16 Desember pukul 18:15 · Suka

Galih Gin Allahu akbar,ko' bs seperti itu paman san's/Pak Dim bagaimana seandainya aja jamaah dari luar pulau jawa yg ingin sowan sedang datangnya diatas dri jam pesowanan,apakah mereka harus menunggu sampai besok lg, maaf sy tdk protes sbb itu hak beliau,cuma sy iba pada jamaah yg mau sowan diluar jam pesowanan,yaa sayyidii yaa ayyuuhal qhauts
16 Desember pukul 19:13 melalui seluler · Batal Suka · 1

Fafirruu Ilallaah Ya ini mungkin tanda2 hati kita mau kiamat
16 Desember pukul 19:28 · Suka

Yales Arianto Wa'alaikumsalam wr.wb. Terima kasih infonya kang dim...@galih gin...jika sdh intruksi spt Ï七凹 ya harus ikut apa Ɣªήğ ∂ĩ berlakukan pusat kecuali jika beliau berkehendak membuka pesowanan ∂ĩ luar jam kerja ( sore/malam )
16 Desember pukul 20:45 · Suka

Galih Gin masya ALLAH, sungguh kasihan jama'ah/pengamal sholawat wahidiyah yg mau sowan diluar jam pesowanan, semoga ALLAH SWT menyadarkan hati jama'ah yg mau sowan nanti tapi diluar jam posowanan,fafirruu illallah.
16 Desember pukul 22:23 melalui seluler · Suka · 1
Ahmad Dimyathi
004.17.333 - Nabi Muhammad SAW Masih Hidup Sampai Sekarang  !!!.

XVI. 17. 0333 "NASEHAT PARA SUFI, AQWALUL ULAMA', BAITII JANNATII, DLL...".

Penjelasan bahwa Rasulullah Muhammad SAW masih hidup setelah kewafatannya saya kutipkan dari kitab Tanwirul Halak karya Imam Suyuti. Berikut kutipan dari Kitab Tanwirul Halak: Imam al-Baihaqi telah membahas sepenggal kehidupan para nabi. Ia menyatakan dalam kitab Dalailun Nubuwwah: “Para nabi hidup di sisi Tuhan mereka seperti para syuhada.”

Abu Manshur ‘Abdul Qahir bin Thahir al-Baghdadi mengatakan: “Para sahabat kami yang ahli kalam al-muhaqqiqun berpendapat bahwa Nabi kita Muhammad SAW hidup setelah wafatnya. Adalah beliau SAW bergembira dengan ketaatan ummatnya dan bersedih dengan kemaksiatan mereka, dan beliau membalas shalawat dari ummatnya.” Ia menambahkan, “Para nabi as tidaklah dimakan oleh bumi sedikit pun. Musa as sudah meninggal pada masanya, dan Nabi kita mengabarkan bahwa beliau melihat ia shalat di kuburnya. Disebutkan dalam hadits yang membahas masalah mi’raj, bahwasanya Nabi Muhammad SAW melihat Nabi Musa as di langit ke empat serta melihat Adam dan Ibrahim. Jika hal ini benar adanya, maka kami berpendapat bahwa Nabi kita Muhammad SAW juga hidup setelah wafatnya, dan beliau dalam kenabiannya.”

Al-Qurtubi dalam at-Tadzkirah mengenai hadits kematian dari syeikhnya mengatakan: “Kematian bukanlah ketiadaan yang murni, namun kematian merupakan perpindahan dari satu keadaan kepada keadaan lain. Hal ini menunjukkan bahwa para syuhada (orang yang mati syahid) setelah kematian mereka, mereka hidup dengan diberikan rejeki, dalam keadaan gembira dan suka cita. Hal ini merupakan sifat orang-orang yang hidup di dunia. Jika sifat kehidupan di dunia ini saja diberikan kepada para syuhada (orang yang mati syahid), tentu para nabi lebih berhak untuk menerimanya.”

Benar, ungkapan yang mengatakan bahwa bumi tidak memakan jasad para nabi as. Hal itu terbukti bahwa Nabi Muhammad SAW berkumpul dengan para nabi pada malam isra’ di Baitul Maqdis dan di langit, serta melihat Nabi Musa berdiri shalat di kuburnya. Nabi juga mengabarkan bahwa beliau menjawab salam dari orang yang mengucapkan salam kepadanya. Sampai hal yang lebih dari itu, di mana secara global hal tersebut bisa menjadi dasar penyangkalan terhadap kematian para nabi as yang semestinya adalah mereka kembali; gaib dari pada kita, hingga kita tidak bisa menemukan mereka, padahal mereka itu wujud, hidup dan tidaklah melihat mereka seorang pun dari kita melainkan orang yang oleh Allah diberikan kekhususan dengan karamah.

Abu Ya’la dalam Musnad-nya dan al-Baihaqi dalam kitab Hayatul Anbiya’ mengeluarkan hadits dari Anas ra: Nabi SAW bersabda: “Para nabi hidup di kubur mereka dalam keadaan mengerjakan shalat.” Al-Baihaqi mengeluarkan hadits dari Anas ra: Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya para nabi tidaklah ditinggalkan di dalam kubur mereka setelah empat puluh malam, akan tetapi mereka shalat di hadapan Allah SWT sampai ditiupnya sangkakala.” Sufyan meriwayatkan dalam al-Jami’, ia mengatakan: “Syeikh kami berkata, dari Sa’id bin al-Musayyab, ia mengatakan, “Tidaklah seorang nabi itu tinggal di dalam kuburnya lebih dari empat puluh malam, lalu ia diangkat.”

Al-Baihaqi menyatakan, atas dasar inilah mereka layaknya seperti orang hidup kebanyakan, sesuai dengan Allah menempatkan mereka. ‘Abdur Razzaq dalam Musnadnya meriwayatkan dari as-Tsauri, dari Abil Miqdam, dari Sa’id bin Musayyab, ia berkata: “Tidaklah seorang nabi mendiami bumi lebih dari empat puluh hari.” Abui Miqdam meriwayatkan dari Tsabit bin Hurmuz al-Kufi, seorang syeikh yang shaleh, Ibn Hibban dalam Tarikhnya dan Thabrani dalam al-Kabir serta Abu Nua’im dalam al-Hilyah, dari Anas ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang nabi pun yang meninggal, kemudian mendiami kuburnya kecuali hanya empat puluh hari.”

Imamul Haramairi dalam kitab an-Nihayah, dan ar-Rafi’i dalam kitab as-Syarah diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda “Aku dimuliakan oleh Tuhanku dari ditinggalkannya aku dikubur selama tiga hari.” Imam al-Haramain menambahkan, diriwayatkan lebih dari dua hari. Abui Hasan bin ar-Raghwati al-Hanbali mencantumkan dalam sebagian kitab-kitabnya: “Sesungguhnya Allah tidak meninggalkan seorang nabi pun di dalam kuburnya lebih dari setengah hari.” Al-Imam Badruddin bin as-Shahib dalam Tadzkirahnya membahas dalam satu bab tentang hidupnya Nabi SAW setelah memasuki alam bnrzokh. Ia mengambil dalil penjelasan Pemilik syari’at (Allah) dari firmanNya: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah, itu mati, bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rejeki,” (Ali ‘Imran: 169).

Keadaan di atas menjelaskan tentang kehidupan alam barzakh setelah kematian, yang dialami oleh salah satu golongan dari ummat ini yang termasuk dalam golongan orang-orang yang bahagia (sn’ada’). Apakah hal-ikhwal mereka lebih tinggi dibandingkan dengan kedudukan Nabi SAW? Sebab mereka memperoleh kedudukan semacam ini dengan barakah dan dengan sebab mereka mengikuti beliau, serta bersifat dengan hal yang memang selayaknya mereka memperoleh ganjaran kedudukan ini dengan syahadah (kesaksian), dan syahadah Nabi Muhammad SAW itu merupakan paling sempurnanya syahadah. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Aku melewati Nabi Musa as pada malam aku dasra’kan berada di sisi bukit pasir merah, ia sedang berdiri shalat di kuburnya.”

Hal ini jelas sebagai penetapan atas hidupnya Musa as, sebab Nabi SAW menggambarkannya sedang melakukan shalat dalam posisi berdiri. Hal semacam ini tidaklah disifati sebagai ruh, melainkan jasad, dan pengkhususannya di kubur merupakan dalilnya. Sebab sekiranya (yang tampak itu) adalah sifat-sifat ruh, maka tidak memerlukan pengkhususan di kuburnya. Tidak seorang pun yang akan mengatakan/berpendapat bahwa ruh-ruh para nabi terisolir (terpenjara) di dalam kubur beserta jasadnya, sedangkan ruh-ruh para su’ada’ (orang-orang yang bahagia/sentosa) dan kaum mukminin berada di surga.

Di dalam ceritanya, Ibn ‘Abbas menuturkan ra: “Aku merasa tidak sah shalatku sepanjang hidup kecuali sekali shalat saja. Hal itu terjadi ketika aku berada di Masjidil Haram pada waktu Shubuh. Ketika imam takbiratul ihram, aku juga melakukan hal yang sama. Tiba-tiba aku merasa ada kekuatan yang menarikku; kemudian aku berjalan bersama Rasuhdlah antara Mekkah dan Madinah. Kemudian kami melewati sebuah lembah. Nabi bertanya, “Lembah apakah ini?” Mereka menjawab, “Lembah Azraq.” Kemudian Ibn ‘Abbas berkata, “Seolah-olah aku melihat Musa meletakkan kedua jari telunjuk ke telinganya sambil berdoa kepada Allah dengan talbiyah melewati lembah ini. Kemudian kami melanjutlam perjalanan hingga kami sampai pada sebuah sungai kecil di bukit.” Ibn ‘Abbas melanjutkan kisahnya, “Seolah-olah aku melihat Nabi Yunus di atas unta yang halus, di atasnya ada jubah wol melewati lembah ini sambil membaca talbiyah.”

Dipertanyakan di sini, bagaimana Ibn ‘Abbas bisa menuturkan tentang haji dan talbiyah mereka, padahal mereka sudah meninggal? Dijawab: bahwasanya para syuhada itu hidup di sisi Tuhan mereka dengan diberikan rejeki, maka tidak jauh pula, jika mereka haji dan shalat serta bertaqarrub dengan semampu mereka, meskipun mereka berada di akhirat. Sebenarnya mereka di dunia mi, yakni kampungnya amal, sampai jika telah habis masanya dan berganti ke kampung akhirat, yakni kampungnya jaza’ (pembalasan), maka habis pula amalnya. Ini pendapat dari al-Qadhi Iyadh.

Al-Qadhi Iyadh mengatakan bahwa mereka itu melaksanakan haji dengan jasad mereka dan meninggalkan kubur mereka, maka bagaimana bisa diingkari berpisahnya Nabi SAW dengan kuburnya, jika beliau haji, shalat ataupun isra’ dengan jasadnya ke langit, tidaklah beliau terpendam di dalam kubur.

Kesimpulannya dari beberapa penukilan dan hadits tersebut, bahwa Nabi SAW hidup dengan jasad dan ruhnya. Dan beliau melakukan aktivitas dan berjalan, sekehendak beliau di seluruh penjuru bumi dan di alam malakut. Dan beliau dalam bentuk/keadaan seperti saat sebelum beliau wafat, tidak berubah sedikit pun. Beliau tidak tampak oleh pandangan sebagaimana para malaikat yang wujudnya adalah ada dan hidup dengan jasad mereka. Jika Allah berkehendak mengangkat hijab tersebut terhadap orang yang Dia kehendaki sebagai bentuk anugerah dengan melihat Nabi, maka orang tersebut akan melihat beliau dalam keadaan apa adanya (seperti saat beliau hidup) dan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi dari hal tersebut serta tidak ada pula yang menentang atas pengkhususan melihat yang semisalnya.