Wednesday, February 26, 2014

002.15.401 - ULUL ALBAB

Fafirruu  Ilalloh wa Rosuulihi  SAW  !
XV. 15. 401 "TAFSIR AL-QURAN DAN AL-HADITS"
002.15.401 - ULUL ALBAB

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah SWT sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan lanjut dan bumi (seraya berkata), “Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.3:190-191)

At Tabari dari Ibnu Hatim meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas ra, bahwa orang-orang Quraisy mendatangi kaum Yahudi dan berkata: "Bukti-bukti kebenaran apakah yang dibawa Musa kepadamu?"

Pertanyaan itu dijawab: "Tongkatnya dan tangannya yang putih bersinar bagi yang memandangnya".

Sesudah itu mereka pergi mendatangi kaum Nasrani dan berkata: "Bagaimana halnya Isa?".

Pertanyaan itu dijawab: "Isa itu menyembuhkan mata yang buta sejak lahir dan penyakit sopak serta menghidupkan orang yang sudah mati".

Selanjutnya mereka mendatangi Rasulullah saw dan berkata: "Mintalah dari Tuhanmu supaya bukti Safa' itu jadi emas untuk kami".

Maka berdoalah Nabi Muhammad saw kepada Allah dan turunlah ayat tersebut di atas yangi intinya mengajak supaya mereka memikirkan langit dan bumi tentang kejadiannya, hal-hal yang menakjubkan di alamnya, seperti bintang-bintang, bulan dan matahari serta peredarannya laut, gunung-gunung, pohon-pohon, buah-buahan, binatang-binatang, tambang-tambang dan sebagainya di bumi ini.
Memikirkan pergantian siang dan malam. mengikuti terbit dan terbenamnya matahari, siang lebih lama dari malam dan sebaliknya. Semuanya itu menunjukkan atas kebesaran dan Kekuasaan Penciptanya bagi orang-orang yang berakal.

Diriwayatkan dari 'Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw berkata: "Wahai 'Aisyah saya pada malam ini beribadah kepada Allah SWT ".

Jawab Aisyah ra: "Sesungguhnya saya senang jika Rasulullah berada di sampingku. Saya senang melayani kemauan dan kehendaknya" Tetapi baiklah! Saya tidak keberatan.
Maka bangunlah Rasulullah saw dari tempat tidurnya lalu mengambil air wudu, tidak jauh dari tempatnya itu lalu shalat sunah. Di waktu shalat Beliau menangis sampai-sampai air matanya membasahi kainnya, karena merenungkan ayat Al-Quran yang dibacanya. Setelah shalat Beliau duduk memuji-muji Allah SWT dan kembali menangis tersedu-sedu. Kemudian beliau mengangkat kedua belah tangannya berdoa dan menangis lagi dan air matanya membasahi tanah.

Setelah Bilal datang untuk azan subuh dan melihat Nabi saw menangis ia bertanya: "Wahai Rasulullah! Mengapakah Rasulullah menangis, padahal Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang terdahulu maupun yang akan datang".

Nabi menjawab: "Apakah saya ini bukan seorang hamba yang pantas dan layak bersyukur kepada Allah SWT SWT? Dan bagaimana saya tidak menangis? Pada malam ini Allah SWT telah menurunkan ayat kepadaku. Selanjutnya beliau berkata: "Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya"

Suatu ketika, selepas shalat berjamaah di masjid, Rasulullah saw. berkumpul bersama para sahabatnya. Kemudian beliau meminta sahabat Ibnu Mas'ud membacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Pada awalnya Ibnu Mas'ud menolak halus karena ia merasa Rasulullah jauh lebih memahami Al-Qur'an daripada dirinya. Namun sesungguhnya Rasulullah mengetahui kelebihan masing-masing dari para sahabatnya. Dan Ibnu Mas'ud ini, meskipun tubuhnya kecil dan sedikit cacat kakinya (pincang jalannya), namun ia memiliki suara yang merdu dan bacaannya bagus. Sehingga ketika Rasulullah memintanya kembali, Ibnu Mas'ud pun menurutinya. Ketika itu Ibnu Mas'ud membaca ayat-ayat Al-Qur'an surah Ali Imran. Dan ketika sampai pada ayat 190-191(seperti di atas), terdengar isak tangis Rasulullah, sehingga Ibnu Mas'ud menghentikan bacaannya. Para sahabat pun merasa heran melihat Rasulullah menangis, sehingga meraka bertanya seperti pertanyaan yang diajukan Bilal kepada Rasulullah ketika ayat tersebut baru saja turun pada kisah asbabun nuzul di atas. Rasulullah bersabda : "Celakalah bagi orang yang membaca ayat ini, namun tidak memahami maknanya".

Memperhatikan hadits Rasulullah saw tersebut setiap kita baca Al-Qur’an henddaknya memahami isi dan merenungkan maknanya (tafakur). Bagi mereka yang memiliki pemikiran luas dan mendalam atau berinteligensi tinggi, maka seluruh apa yang ada di langit dan di bumi yang tercipta itu merupakan kenyataan ontologis, sebagai ayat kauniyyah Allah SWT untuk dipelajari. Demikian pula tentang pergantian waktu malam dan siang memberikan makna tertentu, paling tidak dapat menimbulkan pertanyaan yang semakin mendalam, kemudian menyimpulkan secara sederhana bahwa ada fenomena alam yang penuh keteraturan dan ke-ajeg-an, sebagai suatu hukum alam yang berlaku atau sunnatullah. Dan kunci tabir sunnatullah tersebut tersirat dalam Al-Qur'an bagi orang yang memperhatikan dan memahaminya.

Banyak di antara kita yang pandai membaca Al-Qur'an, bahkan mengerti artinya. Namun umumnya kita tidak pandai membaca ayat-ayat kauniyyah yang ada di alam ini, sehingga kita tidak menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Atau sebaliknya, banyak di antara kita yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi jauh dari tuntunan Al-Qur'an. Sehingga kemudian terjadi dikotomi antara petunjuk Al-Qur'an dan ilmu pengetahuan, bahkan dalam beberapa hal saling bertentangan. Oleh karenanya, Allah SWT akan mengangkat derajat seorang muslim yang mau belajar dan berusaha dengan sungunh-sungguh (mujahadah) memahai dan melaksanakan petunjuk-petunjuk (hidayah) Allah di dalam Al-Qur'an dan ilmu pengetahuan sebagai pembuktian akan ke-Esa-an, ke-Agung-an dan ke-Benaran Allah SWT, dimana dalam beberapa firmanNya orang tersebut diberi predikat sebagai Ulul Albab (QS Ali Imran 190-191 dan Ar Ra'd 19-22)

Istilah Ulul Albab diambil dari bahasa Al-Quran sehingga untuk memahaminya diperlukan kajian terhadap nash-nash yang berbicara tentang Ulul Albab, karena itu agar diperoleh pemahaman yang utuh mengenai istilah tersebut, maka diperlukaan kajian mendalam terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan Ulul Albab, baik dari segi lughawi (bahasa) maupun dari kandungan makna yang dibangun dari pemahaman terhadap pesan, kesan, dan keserasian (munasabah) antara ayat yang satu dengan ayat-ayat sebelumnya.

Menurut Prof . Dr. M. Qurash Shihab (1993) seorang ahli tafsir di Indonesia menjelaskan bahwa kata Albab adalah bentuk jamak dari kata lubb yang berarti saripati sesuatu. Kacang misalnya, memiliki kulit yang menutupi isinya, maka isi kacang itulah yang disebut dengan lubb. Dengan demikian, Ulul Albab adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni, yang tidak diselubungi oleh kulit atau kabut ide yang dapat melahirkan kerancuan dalam berfikir sebagaimana terungkap dalam Al-Quran Surat Ali Imran ayat 190-191. Dalam kaitannya dengan Al-Quran surat Ali Imran ayat di atas, ia menjelaskan bahwa orang yang berdzikir dan berfikir (secara murni) atau merenungkan tentang fenomena alam raya, maka akan dapat sampai pada bukti yang sangat nyata tentang keesaan dan kekuasaan Allah SWT.

Dalam ayat 191, diterangkan karakteristik Ulil Albab, yaitu selalu melakukan aktivitas dzikir dan fikir sebagai metode memahami alam, baik yang ghaib maupun yang nyata.
Dzikir, secara bahasa berasal dari kata dzakara , tadzakkara, yang artinya menyebut, menjaga, mengingat-ingat. Secara istilah dzikir artinya tidak pernah melepaskan Allah SWT dari ingatannya ketika beraktifitas. Baik ketika duduk, berdiri, maupun berbaring. Ketiga hal itu mewakili aktifitas manusia dalam hidupnya. Jadi,dzikir merupakan aktivitas yang harus selalu dilakukan dalam kehidupan. Ada dua dimensi dalam melaksanakan dzikir; (1) bi al-bathin dan (2) bi al-dhahir. Dzikir dengan batin atau dengan hati artinya kalbu manusia harus selalu thawaf kepada Allah SWT, disebabkan adanya cinta, takut, dan harap kepada-Nya yang berhimpun di hati (qalbu al-dzakir). Bukan hati berkata “Allah SWT… Allah SWT.. Allah SWT..” namun qalbu benar-benar hadir di hadapan Allah SWT SWT. Dari sini tumbuh keimanan yang kokoh, kuat dan mengakar di hati. Bahkan dari “qalbu al-dzakir” ini berimplikasi atau menjadikan efek pada gerak-gerik seluruh tubuh dan fikiran, yang kita bisa sebut dengan  (2)“dzikir bi al-dhahir”. Bila manusia telah dimampukan hatinya senantiasa thawaf kepada Allah SWT  (qalbu al-dzakir) maka seluruh tindakan dan fikirannya berdasarkan petunjuk (hidayah) dari Allah SWT. Bisa kita artikan juga bahwa menggunakan seluruh anggota badan dalam kegiatan yang sesuai dengan aturan Allah SWT atau yang diridhai Allah SWT. Secara reflek pun lisan kita akan berucap hamdallah ketika mendapatkan nikmat,  ketika memulai suatu pekerjaan mengucapkan basmalah, ketika takjub mengucapkan tasbih. Refleksi lisan yang demikian biasa kita sebut dengan “dzikru al-lisan” yang masih bagian dari “dzkir bi al-dhahir”.

Fikir, secara bahasa adalah fakara, tafakkara yang artinya memikirkan, mengingatkan, teringat. Dalam pembahasan ayat ini berpikir berarti memikirkan proses kejadian alam semesta dan berbagai fenomena yang ada di dalamnya sehingga mendapatkan manfaat daripadanya dan teringat atau mengingatkan kita kepada sang Pencipta alam, Allah SWT. Dengan kalimat sederhana begitu melihat makhluk fikiran dan hati reflek ingat (dzikir) kepada Allah SWT.

Keberhasilan hidup bagi penyandang Ulul Albab bukan terletak pada jumlah kekayaan, kekuasaan, sahabat, dan sanjungan yang diperoleh, melainkan terletak pada ke-ridha-an Allah SWT. Selalu memilih jenis dan cara kerja yang shaleh artinya mereka bekerja dengan cara yang benar, lurus, ikhlas, dan profesional.

Dari uraian diatas, menurut penulis bentuk operasional suatu alat ukur sebagaimana terkandung dalam 16 ayat Al-Quran, ditemukan adanya 16 ciri khusus yang selanjutnya disarikan ke dalam 4 (empat) ciri utama, yang menjadi konsep Ulul Albab yaitu:
1)        Kedalaman spiritual yaitu karunia (fadlal) Allah SWT yang dianugerahkan kepada manusia berupa kesadaran terhadap kehadiran Allah SWT kapan dan di mana saja berada, dan dalam kondisi apa pun.

2)        Keagungan akhlak yaitu kemampuan berperilaku mulia sesuai dengan ajaran Islam sehingga perilaku tersebut menjadi ciri dari kepribadiannya.

3)        Keluasan ilmu yaitu kualitas seseorang yang dicirikan dengan kepintaran dan kecerdikan dalam menyelesaikan masalah. Selalu kreatif, inofatif dan responsif dalam melihat persoalan, terutama persoalan yang mencakup masyarakat atau umat.

4)        Profesional yaitu kemampuan seseorang untuk bekerja dan berperilaku sebagai seorang profesional dibidangnya. Kemampuan ini dicirikan dengan adanya kesediaan untuk menyampaikan ilmu, kesediaan berperan serta dalam memecahkan masalah umat, dan kebiasaan untuk bertindak sesuai dengan konsep ilmiah dan islami.

Dari ke 4 (empat) ciri dan konsep Ulul Albab tersebut, penulis menggaris bawahi bahwa akibat atau efek dari ciri dan konsep yang no 1 (pertama)-lah kemudian melahirkan ciri-ciri dan konsep-konsep Ulul Albab berikutnya. Karena hati yang telah sadar akan hadirnya Allah SWT kapan dan di mana saja berada dan dalam kondisi apa pun  akan menuntun akal pikiran sikap dan tingkah laku menjadi penuh nilai kemuliaan dan kehormatan yang hakiki, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Ingatlah dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi bila rusak niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu”.

WALLAAHU A’LAM

Tuesday, February 25, 2014

008.02.373 - ORANG BAHAGIA ADALAH ORANG YANG TIDAK BUTUH (Pengajian Kitab Al- Hikam dan Kuliah Wahidiyah Ahad Pagi - oleh Hadrotul Mukarrom Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Madjid RA, Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo Al-Munadhoroh).

YAA SAYYIDII YAA AYYUHAL GHOUTS !
II. 02. 373 "PENGAJIAN ALHIKAM DAN KULIAH WAHIDIYAH AHAD PAGI"

008.02.373 - ORANG BAHAGIA ADALAH ORANG YANG TIDAK BUTUH
(Pengajian Kitab Al- Hikam dan Kuliah Wahidiyah Ahad Pagi - oleh Hadrotul Mukarrom Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Madjid RA, Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo Al-Munadhoroh).

BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIIM

إلهى إن القضاءوالقدرغلبني

Ilahii innal qodhoa wal qodaro gholabani

Tuhanku, ssungguhnya kehendak-Mu dan kepastian-Mu itu telah mengalahkan aku
YANG, dimaksud qada’ adalah iradatullah (kehendak Alloh). Bersama bergantungnya Allah itu iradah. Bergantung kepada keadaan qada’ itu masih iradah. Prakteknya, tergantung pada qodarnya Allah. Qada’ belum akan terjadi kalau belum diqodar.
Sedangkan qadar (kepastian) adalah ijadullah (kehendak Allah mewujudkan asya’) perkara, baik maujudah maupun fi’liyah. Sesudah ada iradah, kemudian ada qadar. Prakteknya, qada’ ke qadar. Karena tidak ada qadar kalau tidak ada qada’. Karena Allah iradah, kemudian ijadullah (Allah mewujudkan perkara) kepada kepastian yang sudah ditentukan. Artinya, qadar yang sudah ditentukan, yang sudah direncanakan, dan sudah diketahui Allah dengan iradah-Nya.

Qodho’ wal qodar gholabani. Maka qada’ dan qadar bisa mengalahkan saya, sehingga saya tidak bisa bergerak. Baik untuk menjalankan taat maupun meninggalkan maksiat. Karena semuanya terdapat pada qada’ dan qadar-Mu, Bahkan billah. Sehingga saya tidak bisa menjalankan taat bila tidak engkau qada’ dan qadar. Begitu juga untuk meninggalkan maksiat juga tidak bisa tanpa qada’ dan qadar-Mu. Jadi pada hakekatnya kita hanya pasrah, tawwakal kepada Allah SWT.

وان الهوى أي ميل النفس إلى مرادها
ومشتهياتهابوثائق الشهوة أسرني

Wa innal hawa ay mailunnafsi ila murodiha wa musytahayyiatiha biwatsaaqi syahwati asarrunii.

Sesungguhnya hawa nafsuku atau condongnya nafsuku kepada kehendak nafsu dan kesenangan nafsu telah menawan (menguasai) diriku.
Jadi hawa nfsu saya, dengan tali-tali, bundelan nafsu, jiretan-jiretan nafsu, (ay syahwati). Maksudnya, nafsu yang disembah seperti tali dan jebakan. Sudah menjeret leher saya (ay qoyyudi), sudah menjerat saya, memboyong saya. Karena saya sudah dikuasai m diboyong nafsu, maka, “Aku mohon pertolongan-Mu ya Allah, sehingga engkau menolong aku. Menolong didalam mengalahkan musuh-musuhku dan pasukannya”.

وتنصربى
Wa tansuro bii

Dan aku mohon perkenan-Mu untuk menolong teman temanku muslimin dan muslimat dengan sebab perantaraanku. Dengan sebab aku, tolonglah teman-temanku mengalahkan musuh-musuhnya.

واجعلناسبب الغنى لأوليائك
وبرزخابينهم و بين أدائك

Waj’alana sababal ghina liauliyaaka wa barzahon bainahum wa baina a’adaaika.
Imam Sadzali berkata, “ Yaa Allah atas perkenan-Mu, jadikan aku penyebab kaya, tidak membutuhkan auliya-Mu. Dan menjadi sebabnya penghalang antara auliya-Mu dan musuh-musuh-Mu. Jadikan aku orang yang menjadi penyebab tidak butuhnya para auliya-Mu kepada hal lain, kecuali hanya kepada-Mu. Dan jadikan aku perisai auliya-Mu dari musuh-musuh-Mu ya Allah”.

Karena nafsu sudah menguasai kemudian berkata, “Tolonglah aku, sehingga aku menjadi orang yang Engkau tolong. Dan jadikan aku sebab ditolongnya orang-orang itu dengan sebab diriku”.

و أغنبي بفضلك حتى أستغني بك عن طلبي

Wa aghni bi fadlika hataa astaghniya bika’ an tholabi.

Dan jadikan aku orang kaya sebab fadhol syuhud kepada-Mu, sehingga aku tidak butuh dari permohonanku kepada-Mu.
Karena saya sudah memandang kepada Allah. Baik dzat maupun sifat. Sehingga saya tidak butuh pada permohonan saya lagi. Mengapa memandang kepada Allah SWT tidak membutuhkan permohonan lagi?

Karena, siapapun yang sudah musyahadah kepada Allah dengan betul-betul hadir dihadapan Allah, billah. Maka dia itu akan malu jika minta sesuatu kepada Allah SWT. Sebab dia tahu, jika Allah itu senantiasa melihat terhadap keadaan dan kebutuhannya. Allah tahu, dan Allah tidak samar lagi atas sesuatu dari sesuatu. Maka orang seperti itu sudah tidak butuh permohonan. Karena Allah dengan ilmu-Nya pasti mengetahui kebutuhan hamba-Nya. Maka, (astaghni bika), “Aku tidak butuh dengan permohonanku, karena aku yakin Engkau sudah tahu kebutuhanku”.

Barang siapa yang sudah betul-betul bersama-Nya, maka tidak butuh makna atau permintaan itu tiada berarti. Karena belum memohon sudah dikabulkan. Karena permohonannya itu tidak ada gunanya. Lisyar’i (hanya mengisi bidang perintah/menjalankan perintah) saja. Hakikatnya Allah member meski tanpa permohonannya. Karena Allah telah tahu dengan keadaan hamba-Nya.
Maka sesungguhnya, orang yang betul-betul bahagia (kata Syekh Imam Sadzali), ialah orang yang oleh Allah telah dijadikan tidak butuh dari permohonan kepada Allah SWT. Mengapa tidak butuh? Karena sudah bil dzauq (mengetahui dan merasa) bahwa Allah itu Maha Mengetahui segala keadaan hamba-Nya.

Adakah kita sudah demikian, sebagaimana dikatakan oleh beliau mualif Al-Hikam, bahwa beliau telah betul-betul melihat kepada Allah, sehingga beliau tidak lagi mengadakan permohonan lagi. Sebab kalau permohonan itu dasarnya hanya keinginan, justru su’ul adab kepada Allah SWT. Allah dzat yang Alim (mengetahui), megapa harus dimohon lagi? Berarti itu melihat Allah buta. Tapi mengapa Kyai Mushonif kok memohon? Lisyar’i (karena menjalankan perintah Allah SWT). Ud’uni astadjib lakum. Mohonlah kepada-Ku pasti Aku kabulkan.

Maka apabila ada orang memohon kepada Allah dasarnya butuh, maka sungguh orang ini telah melakukan dua kesalahan. Kesalahan pertama, menganggap Allah itu a’ma (buta). Kedua, dia mengikuti hawa nafsunya, sehingga syirik khofi.

Mudah mudahan Allah membuka mata hati kita, sehingga betul-betul musyahadah haqqon kepada Allah SWT. Hingga kita tidak butuh lagi dengan permohonan kita kepada Allah SWT. Menganggap sudah cukup atas ilmu Allah kepada kita. Hingga semua kebutuhan kita sudah diberikan Allah tanpa kita mohon. Adapun kita harus memohon, itu karena perintah Allah, bukan karena kebutuhan.

Aham Edisi 48 / Th. VI / Rajab 1424 H

011.12.313 - "HIKMAH ULANG TAHUN SY KE 56"

FAFIRRUU ILALLOH WA ROSUULIHI SAW !

XII. 12. 313 "POSTINGAN ANDA AMAT BAGUS DAN SANGAT BERMANFAAT"
011.12.313 - "HIKMAH ULANG TAHUN SY KE 56"

Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakaatuh,

Keluargaku, Saudaraku dan Sahabatku Semuanya Tanpa Kecuali.......
ALHAMDULILLAH, Hari ini saya berulang tahun yang ke 56. Rasanya saya sudah semakin tua. Ya, emang sudah tua.... Entah berapa hari lg, bln lg atau tahun lg umurku ..???. Kita ga tahu..

Saya memulai beraktifitas hari ini dengan indah, gembira dan bahagia. Sungguh indah. Betapa tidak ? Ulang tahun saya hari ini sangat istimewa.

Saya tadi malam belum bisa memejamkan mata, hingga tepat jam 24:00 "ANAK PEREMPUAN SAYA dan IBUNYA ANAK2" mengucapin Selamat Ulang Tahun kepada sy. Demikian juga saudaraku, sahabat-sahabatku yang baik-baik tak lupa mengirim SMS DLL ucapan selamat ulang tahun. Senang sekali rasanya, hidup diantara orang-orang yang begitu baik dan perhatian. ALHAMDULILLAH, Terima kasih ISTRI DAN ANAK2KU SERTA saudara-saudaraku/sahabat2ku, sy hanya bisa membalas dengan iringan do'a ; "JAZAA KUMULLOOHU KHOIROOTI WA SA'AADAATID DUN-YA WAL AAKHIROH. AMIIN...!.

Jam 07:30 saya buka FB .... Subhanallah....Wal Hamdulillah Walaa Ilaaha Illalloohu Alloohu Akbar..... banyak juga sahabat-sahabat, baik yang sudah pernah ketemu, maupun yang cuma kenal lewat dunia maya yang ngucapin selamat ulang tahun kpdku. Terima kasih atas do'a sahabat-sahabatku ... semoga Anda juga senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan dan kekuatan dalam melakukan setiap gerak langkah kehidupan dan selalu berada di jalan yang di ridhoi oleh Alloh wa Rosuulihi SAW. AMIIN !.

Banyak sahabat yang mendo'akan agar tercita cape-capeku ... eh salah, tercapai cita-citaku. Lalu aku berfikir "waktuku sudah semakin sedikit, tetapi kerinduan ku untuk bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat buat orang lain, belum terwujud, terutama dlm Perjuangan Fafirruu Ilalloh wa Rosuulihi SAW yg sangat kita cintai ini."

Jujur, sejak dari kecil orang tua saya tidak pernah mengajarkan untuk merayakan ulang tahun dengan berpesta. Tapi justru diminta untuk merenung tentang perjalanan hidup selama satu tahun ke belakang. Lebih banyak mana, kebaikan atau kejelekanku ?. Kebanyakan orang bersenang-senang kalau merayakan ulang tahun, bukannya bersedih. Lho ? kok bersedih pak ?. Ya, karena ulang tahun pada hakikatnya justru jatah kita hidup di dunia ini semakin berkurang, bukan bertambah. Kalo pinjam istilah Si Ipin mah...... Betul, betul, betul ??

Oleh karena itu, ulang tahun saya kali ini yang bertepatan dengan SELASA tanggal 25 Pebruari 2014 , semoga menjadi berkah, MEMBAWA HIKMAH YG BESAR  dan bermanfaat. Amiin ya robbal 'alamiin.

Sekali lagi, buat keluargaku, saudaraku dan sahabat-sahabatku yang baik, ALHAMDULILLAH, TERIMA KASIH ATAS UCAPAN SELAMAT ULANG TAHUN KELAHIRAN SY KE 56 (25-02-1958 - 25-02-2014), DLM ULANG TAHUN INI SAYA HANYA MEMOHON MA'AF LAHIR DAN BATIN DENGAN RENDAH HATI DAN SUNGGUH2, JUGA MOHON DO'A RESTU DAN BANTUAN/ KADO MUJAHADAH KPD KELUARGAKU/SAUDARAKU/SAHABATKU SEMUANYA, SEMOGA KITA SEMUANYA SELALU DIBERI KESEHATAN, KEBERKAHAN, UMUR PANJANG, KEMANFAATAN, KEMASLAHAHAN, KESELAMATAN DAN KEBAHAGIAAN LAHIR BATIN, SERTA DIBERI LEBIH MENINGKAT DAN MAJU/SUKSES DLM SEGALA BIDANG LAHIRIYYAH DAN BATINIYYAH, dan sll dlm lindungan hidayah taufiq Alloh SWT, kemulyaan syafaat tarbiyyah Rosululloh SAW barokah karomah nadhroh Ghoutsu Hadzaz Zaman Ra beserta keluarga dkk..... AMIIN !. (AL-FAATIHAH - MUJAHADAH !). ATAS UCAPAN SELAMAT TSB DAN ATAS PERHATIAN SAUDARAKU SEMUANYA KEPADA SAYA, SAYA HANYA DPT MEMBALAS DAN MENGUCAPKAN ALHAMDULILLAH DAN JUTAAN TERIMA KASIH TERIRING DO'A : "JAZAA KUMULLOOHU KHOIROOTI WA SA'AADAATID DUN -YA WAL AAKHIROH (Semoga Alloh SWT memberikan BALASAN kebaikan dan kebahagiaan yang sempurna di dunia dan akherat kepada ANDA semuanya. AMIIN !. (AL-FAATIHAH - MUJAHADAH !.)...... semoga kita dapat menjalankan IBADAH APAPUN dengan "imanan wahtisaban" semoga kita mendapatkan "ghufirolahu maa taqoddama min dzambih" ... artinya, kalau kita menjalankan IBADAH APAPUN dengan dijiwai imanan (BILLAH) dan penuh keikhlasan (LILLAH) serta Lirrosul - Birrosul ..dst.., maka Allah SWT akan menghapus dosa-dosa kita yang telah lalu, BAHKAN DOSA2 YG TELAH LALU AKAN DIJADOKAN HASANAT OLEH ALLOH SWT, PABILA BERTAUBAT DENGAN TAUBATAN NASHUHA. Dan semoga kita dapat bertemu kembali dengan tahun depan. Amiin ya robbal 'alamiin.

Wassalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakaatuh.
Batal Suka ·  · Promosikan · 

Saturday, February 22, 2014

007.02.373 - NUR ILAHI - (Pengajian Kitab Al- Hikam dan Kuliah Wahidiyah Ahad Pagi - oleh Hadrotul Mukarrom Mbah KH. Abdul Madjid Ma'roef - Mu'allif Sholawat Wahidiyah QS wa RA, Alghouts Fii Zamanihi).

YAA SAYYIDII YAA AYYUHAL GHOUTS !
II. 02. 373 "PENGAJIAN ALHIKAM DAN KULIAH WAHIDIYAH AHAD PAGI"

007.02.373 - NUR ILAHI - (Pengajian Kitab Al- Hikam dan Kuliah Wahidiyah Ahad Pagi - oleh Hadrotul Mukarrom Mbah KH. Abdul Madjid Ma'roef - Mu'allif Sholawat Wahidiyah QS wa RA, Alghouts Fii Zamanihi).

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
( اْلاَنْوَاَرُ مَطَايَا الْقُلوبِ وَاْلاَسْرِارِ )

“NUR ILAHI”, yaitu NUR-cahaya yang diberikan Alloh kedalam hati, nur maknawi, atau rasa dalam hati, yang biasanya sebagai hasil dari zikir atau riyadhoh atau mujahadah-mujahadah, rasa atau perasaan dalam hati yang mengarah kepada hal-hal yang baik, yang menggerakkan kepada soal-soal yang diridhoi oleh Alloh, yang menggerakkan kepada perbuatan-perbuatan yang membuahkan manfaat bagi lain orang dan umat dan masyarakat, pokoknya gerak hati yang mengarah kepada Alloh SWT. Nur Ilahi seperti itu merupakan “kendaraan hati” yang nengantar kepada yang dituju oleh hati, yaitu masuk kedalam istana kesadaran dan dekat kepada Tuhan.
“MATHOOYAL-QULUUB WAL ASROOR” - kendaraannya hati dan kendaraan bermacam-macam rahasia, yaitu batinnya hati.

اَلنُّوْرُ جُنْدُ الْقَلْبِ كَمَا اَنَّ الظُّلْمَةَ جُنْدُ النَّفْسِ

“NUR” adalah merupakan pasukan tentaranya hati yang menghantarkan kepada apa-apa yang dimaksud atau yang dituju oleh hati. Tujuan hati yang sebenar-benarnya, yang asli adalah sadar kepada Tuhan. Bentuk-bentuk lain yang bermacam-macam itu seharusnya hanya sebagai batu loncatan untuk menuju kepada Tuhan. Hati yang tidak menuju kepada Tuhan, hati yang hanya berputar-putar mondar-mandir didalam hal-hal selain Tuhan, adalah hati yang tidak normal. Hal yang abnormal, Hati yang sudah keluar dari keasliannya. Sekali lagi hati yang normal yang asli, tujuan dan acaranya hanya kepada Tuhan !.

“NUR” adalah balatentaranya hati, seperti halnya “gelap” atau kegelapan adalah pasukannya nafsu. Kegelapan adalah tabiat hamba. Hati yang dalam kegelapan yaitu hati yang dikuasai oleh nafsu. Nafsu ingin atau mengajak berbuat begini begitu perbuatan-perbuatan yang terlarang, perbuatan-perbuatan yang tidak diridloi Tuhan, perbuatan-perbuatan yang merugikan. Hanya mau cari kepuasan nafsu belaka !. Yang penting puas. Itu nafsu Tidak peduli bagaimana akibatnya!.

فَاِذَا اَرَدَ اللهُ اَنْ يَنْصُرَ عَبْدَهُ اَمَدَّهُ بِجُنُوْدِ اْلاَنْوَارِ وَقَطَعَ عَنْهُ مَدَدَ الـظُّلْمِ وَاْلاَغْيَارِ

(Maka jika Alloh menghendaki menolong hamba-NYA, Alloh memelihara si hamba itu dengan Tentara-Nur mdan Alloh melindunginya dari serangan kegelapan dan dari pengaruh lain-lain).

Orang yang ditolong oleh Tuhan otomatis hatinya diterangi dengan Nur - Cahaya. Sehingga dia tahu benar dan menyadari bahwa ini dikecam tidak diridhoi Tuhan, itu baik, diridhoi Tuhan dan bermanfaat. Sehingga dia tahu dengan sesungguhnya tahu dan menyadari bahwa ini haq - benar, itu salah - bata. Alloh SWT melindungi orang-orang yang dikehendaki-NYA. Jadi dari perkara-1 perkara yang gelap. Dihindarkan dari pengaruh-pengaruh negatif yang menimbulkan kegelapan dalam hati.

Banyak terjadi dalam pengalaman sehari-hari bahwa seseorang pada suatu waktu bermaksud melakukan perbuatan atau pekerjaan-pekerjaan bak yang diridloi Alloh dan bermanfaat. Tetapi karena situasi atau karena sesuatu hal maka pekerjaan-pekerjaan yang baik yang akan dilakukannya itu tidak jadi dilaksanakan. Malah, ada yang saling gonto istilah bahasa Jawa, ganti acara pindah tujuan. Ini namanya dia terkena pengaruh-pengaruh negatif dari nafsunya Dia dikepung oleh tentara nafsu, yaitu kegelapan. Dia dikalahkan oleh nafsunya Ini mungkin dan bahkan sering kali terjadi dalam pengalaman batin seseorang Akan tetapi jika Alloh SWT menghendaki menolongnya, otomatis dia dilindung dari pengaruh negatif dari nafsunya tadi. Dia dapat mengalahkan nafsunya dengan izin Alloh SWT. Sehingga dia berhasil melaksanakan pekerjaan-pekerjaan baik yang bermanfaat yang dia maksudkan semula. Inilah yang digambarkan disini bahwa dia mendapat pertolongan Alloh dengan “JUNUUDUL-ANWAAR” -tentaranya Nur-Cahaya.

Sedangkan orang yang tidak mendapatkan pertolongan dari Tuhan, tidak menerima “JUNUUDUL-ANWAAR”, sekalipun dia tahu ini baik, itu buruk, akan tetapi dia tidak berhasil melakukan perkara yang baik tadi, tidak mampu menghindarkan diri dari hal-hal yang buruk yang diketahuinya tadi. Dia punya karep atau tujuan baik, akan tetapi mandeg terhenti ditengah jalan. Kalah oleh pengaruh-pengaruh nafsunya.

Untuk mengatasi keadaan-keadaan tersebut diatas, ya harus usaha. harus senantiasa mawas diri dalam segala hal !. Harus senantiasa berdepe-depe memohon kepada Alloh SWT !. Memperbanyak mujahadah-mujahadah ! Selalu menyadari bahwa dirinya “DHOLUUMUN – KAFFAAR”- penuh kegelapan,' ‘dholim dan tertutup rapat dari rohmat Alloh Ta’ala!. Harus senantiasa menguatkan himmah dan kemauannya !. Ajakan nafsu dalam bentuk apapun harus dihindari, jangan diturutkan !

اَلنُّوْرُ لَهُ الْكَشْفُ وَالْبَصِيْرَةُ لَهَا الْحُكْمُ وَاْلقَلْبُ لَهُ اْلاِقْبَالُ وَاْلاِدْبَارُ

“NUR” atau cahaya dalam hati mempunyai daya yang dapat membuka tabir “kasyfu”, sehingga dapat diketahui manfaat tho’at dan keburukannya maksiat. Dapatnya tahu itupun merupakan nur juga. Adapun “BASHIIROH”, bashiiroh = pandangan atau penglihatan batin, adalah yang melihat dan menentukan atau menetapkan. Menetapkan itu baik, ini buruk dan sebagainya. Sekalipun ada “Nur” atau bashiirohnya tidak memandang ya tidak mengetahui. Begitu juga sekalipun Sashiirohnya memandang, jika tidak ada “Nur”- cahaya yang menerangi, juga tidak kelihatan hal-hal yang baik dan perkara yang buruk. “WAL QOLBU LAHUL IQBAAL WAL IDBAAR” - dan hati mempunyai kebebasan bergerak dan berubah-rubah. Terkadang menghadap dan terkadang membelakangi (mungkur). Terkadang ada perhatian, dan terkadang menganggap sepi, acuh tak acuh.

فَإِذَا كُشِفَ لَهَا عَنْ حُسْنِ الطَّاعَةِ وَقُبْحِ الْمَعْصِيَةِ أَقْبَلَ الْقَلْبُ عَلَى الطَّاعَةِ وَاَحَبَّهَا فَتَتَّبِعُهُ الْجَوَارِ اَوْ اَدْبَرَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ فَلاَ تَتَلَبَّسُ بِهَا الْجَوَارِأ....

Jadi, jika “bashiiroh” meiihat dan mengetahui baiknya tho’at dan jeleknya maksiat, maka hati menjadi madep dan menaruh perhatian kepada tho’at. Ada sambutan dari hati. Hati mengalami suatu situasi memandang baiknya tho’at, maka anggota lahirnya pun mengikuti situasi itu atau hati lalu memerintah anggota lahir untuk mengerjakan apa yang menjadi gerak hati.yaitu menghendaki tho’at dan menjahui soal-soal yang dikecam atau maksiat.

وَيُحْتَمِلُ أَنَّ الْمَعْنَى أَنَّ النُّوْرَ لَهُ الْكَشْفُ عَنِ الْمُغَيَّبَاتِ كَأَسْرَارِ الْقَدْرِ ....

Pengertian lain ialah, bahwa “NUR” mempunyai daya membuka barang ghoib. Perkara-perkara yang ghoib menjadi kelihatan karena adanya “NUR” atau cahaya. Selanjutnya “BASHIROH” atau pengelihatan hatilah yang meraba sehingga dapat tahu itu putih, ini merah dan sebagainya. Sehingga tahu soal-soal yang akan terjadi. “Weruh sakdurunging winarah” - kata dalam bahasa Jawa.

ثُمَّ هَذَا الْكَشْفُ وَاْلاِدْرَاكُ قَدْ لاَيَكُوْنَانِ تاَمَّيْنِ ...

Hasil penglihatan hati “kasyfu” dan “idrok” itu terkadang tidak jelas dengan sempurna. Hanya remeng-remeng, samar-samar. Ini antara lain tergantung kepada sehat dan tidaknya “mata hati” ketika memandang. Maka dari itu jika kita dikaruniai dapat melihat perkara-perkara ghoib, harus lebih berhati-hati!. Perkara yang manfaat misalnya. Apabila kita dikaruniai mengetahui perkara-perkara yang manfaat, harus lebih berhati-hati, harus dikaji yang seluas- luasnya !. Begitu juga ketika kelihatan perkara-perkara yang kurang atau tidak manfaat. Harus diteliti yang sungguh-sungguh. Sebab mungkin, apa yang kelihatan manfaat, itu pada hal sesungguhnya tidak manfaat. Dan apa yang kelihatan tidak manfaat, ternyata justru itu manfaat. Harus lebih berhati-hati !. Jangan begitu saja mengikuti apa yang terlihat dalam pandangan hati kita !. Sebab mungkin “hati kita” pada waktu itu tidak atau kurang sehat, sehingga memperoleh gambaran-gambaran yang kurang tepat pula. 
Lebih-lebih soal-soal yang menyangkut agama. Jika apa yang kelihatan oleh mata hati atau “kasyfu” atau “idrok” itu ternyata berlawanan dengan hukum, tidak boleh diturut!. Dan jika penglihatan batin itu sangat kuat Bagaimana ?. Yah, sekalipun kuat, jika bertentangan dengan hukum agama, harus diselidiki lagi lebih dalam !. Perlu ditanyakan kepada orang yang lebih ahli, yang dapat memberi jawaban masalah ini.
Jadi ringkasannya, dalam menghadapi segala sesuatu hati harus selalu, .......Selalu FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW !. Berbuat dengan perbuatan yang diridhoi Alloh SWT wa Rosuulihi saw, dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang terkecam atau yang merugikan orang lain !.

لاَتُفَرِّحْكَ الطَّاعَةُ لأَِنَّهَا بَرَزَتْ مِنْكَ وَافْرَحْ بِهَا ِلأَنَّهَا بَرَزَتْ مِنَ اللهِ إِلَيْكَ...

Jangan bungah, jangan gembira, jangan bangga karena adanya tho’at yang dikerjakan, tetapi banggalah, gembiralah atas tho’at tadi yang tho’at itu adalah fadhol atau pertolongan dari Alloh SWT kepadamu !.
Barang siapa yang gembira ketika dapat mengerjakan tho’at begitu saja, tidak gembira karena mendapat pertolongan Alloh, itu namanya LINNAFSI BINNAFSI !. Seharusnya gembira karena mendapat fadhol pertolongan Alloh SWT sehingga dapat menjalankan tho’at !. Jadi orang gembira hanya karena dapat berbuat baik, itu namanya LINNAFSI BINNAFSI. Harus diteruskan kepada Tuhan asal datangnya berbuat baik itu!.
Istilah lain, orang yang gembira karena merasa dapat berbuat baik atau mengerjakan tho’at, dinamakan “ujub”. Ujub = merasa mempunyai kebaikan. Ini sangat dilarang karena dapat menghapus segala amal-amal ibadah. Menjadi sebabnya amal ibadah ditolak oleh Tuhan.
Jadi harus selalu memandang kepada fadholnya Tuhan. BILLAH mudahnya!. Jadi berarti syukur tidak lain pengetrapannya ialah BILLAH disamping LILLAH !.

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَالِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ ( يونوس : ٥٨ )

Ini firman Tuhan. “Katakanlah wahai Mohammad, bahwa sebab fadhol dari Alloh dan rohmat-NYA maka dengan itu sampaikanlah kepada ummat agar mereka bergembira, yang demikian itu lebih baik dari apa-apa yang mereka kumpulkan berupa tho’at, materi atau moril yang engkau aku karyamu sendiri.

Jadi dikaruniai dapat mengerjakan tho’at, itu adalah fadholnya Alloh SWT yang besar sekali. Harus gembira dan syukur karena itu !. Tapi kalau gembira hanya karena wujudnya bisa melakukan tho’at begitu saja, ini yaitu tadi, LINNAFSI BINNAFSI dan pasti ujub dalam tho’at atau ibadah itu !. “WA ILA ROBBIKAL MUNTAHA !”. Harus terus diarahkan kepada Tuhan !. Notog kepada Tuhan.
Sekalipun kurang sempurna didalam ibadah, tapi sesungguhnya asal betul-betul LILLAH BILLAH otomatis sempurna, LILLAH sudah mencakup meliputi lahiriyah dan batiniyah. LILLAH syari’at. “ASYSYARII ‘ATU AN TA’AMALA LILLAH”. Yang disebut syari’at-syari’at agama, yaitu sekiranya berbuat dengan ikhlas LILLAHI TA’ALA. Baik perbuatan lahiriyah maupun batiniyah. Dan BILLAH adalah bidang haqiqot. Maka apabila beramal dengan LILLAH BILLAH otomatis diridhoi oleh Alloh SWT. LILLAH BILLAH sekalipun hanya dua patah kata tetapi meliputi dan mencakup keseluruhan, lahir batin dunia akhirot, dalam segala bidang. Sebab merupakan realisasi dari dua syahadah “ASYHADU AN LAAILAAHAILLALLOH ASYHADU ANNA MOHAMMADAR-ROSUULULLOH”.

Para hadirin hadirot, mudah-mudahan pengajian pagi ini diridhoi oleh Alloh wa Rosuulihi saw dan membuahkan manfaat yang sebanyak-banyaknya !. Mudah - mudahan didalam kita mengetrapkan apa yang sudah kita bahas tadi benar-benar diridhoi Alloh SWT !. Ya itu kita senantiasa mendapat fardhol dari Alloh SWT sehingga dapat memanfaatkan dan mengalahkan nafsu kita masing-masing, sehingga kita dapat melaksanakan apa-apa yang diridhoi Alloh wa Rosuulihi saw, yang memanfaati kepada ummat dan masyarakat dhohirron aathinan !. Kalau hanya manfaat lahir saja, manfaat materi saja, batin tidak manfaatnya, ini sesungguhnya tidak manfaat. Sesungguhnya malah merugikan. Seperti yang disabdakan Syekh Abdus - Salam bin Masyisy :

مَنْ دَلَّكَ عَلَى الدُّنْيَا فَقَدْ غَشَّاكَ

Orang yang memberi petunjuk kepadamu, bahkan memberi sekalipun, soal dunia, berarti ini orang yang menipumu. Menjerumuskan kepadamu. Menjerumuskan ?. Sebab dengan diberi uang atau materi atau diberi petunjuk soal ekonomi sehingga dapat memperoleh keuntungan-keuntungan materi, ini lalu digunakan untuk menuruti nafsunya belaka. Jadi kalau begitu, si pemberi tadi bukan menguntungkan melainkan merugikan !. Inilah bahayanya. “MAN DALLAKA’ ALAD-DUNYA FAQOD GHOSYSYAAKA”. Orang yang menunjukkan engkau tentang dunia adalah sesungguhnya dia telah menipu menjerumuskan dirimu. Sebelum mendapat petunjuk soal dunia, orang tidak begitu mudah menuruti nafsunya. Tetapi setelah dapat mencari dunia dengan mudah karena adanya petunjuk tadi, dia lalu berlarut-larut ngujo nuruti kepuasan nafsunya. Ini tertipu namanya.
Itulah suatu contoh hal-hal yang hanya memanfaati soal dunia atau materi saja. Maka, manfaat harus batin. Manfaat dunia dan manfaat akhirot!. Lahiriyah diberi petunjuk soal materi, soal dunia, dan batiniah diberi soal kesadaran kepada Alloh SWT sehingga dia dapat menggunakan materi itu bukan untuk memuaskan nafsu saja, melainkan menggunakannya untuk FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW.
Sekalipun hanya soal makan misalnya. Seseorang “Aku makan karena lapar”. Ini berarti hanya nuruti pada nafsunya. Yang seorang lagi “aku makan demi menurut perintah Alloh, ibadah kepada Alloh LILLAH”. Dan merasa BILLAH, tidak merasa dirinya ada kemampuan makan. Sekalipun sama-sama makan, tetapi antara keduanya ada perbedaan nilai yang jauh sekali. Yang pertama nuruti atau ngujo nafsu, dan yang kedua betul-betul ibadah kepada Alloh, dan bebas dari imprialis nafsunya. Yang pertama terjerumus kedalam jurang jahanam, dan yang kedua tadi, diridhoi Alloh wa Rosuulihi saw. Pada kelihatannya perbedaan hanya saklapan. Tetapi sesungguhnya berbeda!. Yah, memang begitulah, segala sesuatu itu makin halus makin besar akibatnya. Jika untung ya untung besar, tetapi jika rugi, juga rugi yang sangat besar sekali. Suatu contoh lagi, soal menghormati kepada tamu misalnya. Yang : menghormat tamunya dengan sungguh-sungguh ikhlas LILLAHI TA’ALA. Yang lain menghormat tamunya ada pamrih. Pamrih begini begitu. Atau karena biar bisa menguasai si tamu misalnya. Sekalipun pada lahirnya kelihatan sama-sama menghormat, tetapi ada perbedaan yang menyolok sekali. Yang pertama, yang menghormat dengan ikhlas LILAHI TA’ALA, adalah terpuji dan diridhoi Alloh wa Rosuulihi saw. Yang kedua, menghormat tamu karena menguasai orangnya, menguasai hartanya, atau menguasai pengaruhnya dll. Adalah sangat terkecam dan sangat membahayakan. Membahayakan bagi orang lain atau ummat masyarakat.

Itulah gambaran-gambaran mengenai pekerjaan hati. Maka soal menertibkan hati penting sekali kita perhatikan !. Tetapi ini tidak berarti kita boleh mengesampingkan soal pekerjaan-pekerjaan lahiriyah !. Lahiriyah harus pula kita kerjakan sebaik mungkin menurut yang semestinya dan setepat-tepatnya, dan soal batiniyah atau hati harus kita atur yang sebaik mungkin !.
Pendek kata kita harus menguasai segala bidang !. Harus “YUKTI KULLA DZII HAQQIN HAQQOH”!. Sekalipun perkara kecil atau remeh !.
Ada suatu dawuh kata-kata yang maksudnya kurang lebih :

اِنَّ اللهَ تَعَلَى خَبَاءَ ثَلاَثَةَ أَشْيَاءَ فِىْ ثَلاَثَةِ مَوَاضِعَ

“INNALLOHA TA’ALA KHOBA-A TSALAATSATA ASYYAA-A FII TSALAATSATI MAWAADLI’A”.
(Sesungguhnya Alloh Ta’ala menempatkan, maksudnya merahasiakan tiga perkara didalam tiga tempat), satu yaitu, menempatkan ridho-NYA didalam ibadah, oleh karena itu: 

فَلاَ تَسْتَحْقِرْ طَاعَةً اَىْ وَلَوْ صَغِيْرَةً

“FALAA TASTAHQIR THO'ATAN Al WALAU SHOGHIIROTAN”!. Jangan menganggap remeh kepada tho’at, sekalipun betapa kecilnya !. Sebab mungkin didalam tho’at yang ringan sekalipun, sekalipun hanya sunnat yang tipis sekali, mungkin disitu Alloh Ta’ala meletakkan RIDHO-NYA !. Ada lagi yaitu Alloh Ta’ala meletakkan atau merahasiakan BENDU-NYA didalam maksiat. Oleh karena itu jangan sekali-kali menganggap enteng kepada maksiat sekalipun maksiat kecil!. Mungkin sekalipun maksiat kecil, dapat menjadi sebab BENDU-NYA Alloh Ta’ala!.

Banyak cerita-cerita dalam sejarah tentang Tho’at kecil menjadi sebabnya Alloh Ta’ala meridhoinya. Antara lain Sayyidinaa Umar Ibnul Khottob rodhiyallohu ‘anhu. Pada suatu waktu melihat anak kecil bermain-main dengan seekor burung kecil. Lalu burung itu dibeli oleh Sayyidina Umar dan kemudian burung itu dilepas dibebaskan. Lha inilah antara lain yang menjadi sebabnya Sayyidina Umar selamat dari kuburnya. Pada hal ini soal sepele kelihatannya. Ada lagi. Yaitu Imam Ghozali. Imam Ghozali ketika sedang mengarang ada seekor lalat meminum tinta yang dipakai menulis karangannya. Beliau kemudia berhenti mengarang. Kasihan ada lalat sedang minum tintanya Inilah juga antara lain menjadi sebabnya Imam Ghozali diselamatkan oleh Alloh SWT.

Itulah contoh-contoh kejadian, dimana-mana Alloh Ta’ala meletakkan RIDHONYA didalam Tho’at. Oleh karena itu kita jangan sampai menganggap remeh terhadap Tho’at, betapapun kecilnya.
Begitu juga soal maksiat !. Jangan menganggap remeh betapapun kecilnya !. Ada seorang ketika berjalan-jalan memungut sebatang kayu kecil dari pagar tetangganya untuk tusuk gigi. Lha ini ternyata kemudian di alam kubur disiksa sampai berpuluh-puluh tahun akibat perbuatannya mengambil sebatang kayu tusuk gigi dari pagar tetangganya tadi. Banyak yang serupa dengan itu. !. Sekalipun kecil jangan sampai dianggap remeh !. Lebih-lebih yang besar!. Membiarkan lalat minum tinta, sudah begitu buahnya bagi Imam Ghozali. Lebih- lebih memberi kesempatan kepada manusia, lebih-lebih !. Sedangkan menyelamatkan lalat atau burung kecil saja sudah begitu, lebih-lebih menyelamatkan manusia dari cengkraman imprialis nafsunya !. Lebih-lebih !. Lebih -lebih, para hadirin hadirot!.

Namun demikian para hadirin hadirot, kita tidak boleh begitu saja jalan kita !. Kita harus menggunakan fikiran kita !. Kita harus mengunakan pertimbangan-pertimbangan !. Antara lain seperti qo’idah dalam Usulul-fiqhi:

فِىْ الضَّرَرَيْنِ اَخْدُ اَخَفِّهِمَا

“FIDL-DLOROROINIAKHDZU AKHOFFTHIMA”. Ada dua macam kerugian yang kita mau tidak mau harus, dipaksa mengalami salah satu. Menghindar dari tidak mungkin. Karena terpaksa oleh situasi dan kondisi dan lain-lain. Ini kita harus memilih kerugian yang paling kecil, paling ringan !. Rugi 1000 atau 100 ?. Kita harus memilih yang rugi 100 !. “FIDH-DHOROROINI AKHDZU AKHOFFHIMA”. Didalam dua bahaya atau dua kerugian, kita harus memilih yang ringan !. Ini sebenarnya berlaku untuk umum dalam segala bidang. Baik soal ekonomi atau lain-lain apa saja, ini menjadi suatu qo’idah. Dalam menghadapi kerugian atau bahaya, yang mau tidak mau kita pasti mengalaminya, ini kita memilih yang paling ringan !. Selama mampu, otomatis. Adapun tidak mampu, ini lain soal.

Begitu juga dalam keuntungan. Hanya istilahnya yang berbeda. Ada dua keuntungan, yang satu untung banyak, dan yang satu untung sedikit. Untung 1000 dan untung 100, ini harus memilih untung 1000 !. Jadi bisa kita golongkan “TAQDIMUL AHAM”. Mendahulukan yang lebih penting. Atau mengenai kerugian tadi, juga dapat diartikan kedalam “TAQDIMUL AHAM”. Yang lebih penting, lebih yaitu memilih kerugian yang paling ringan, atau memilih keuntungan yang besar. Keuntungan apa saja. Terutama soal kesadaran kepada Alloh wa Rosuulihi saw!.
Ya mudah-mudahan para hadirin hadirot, pengajian pagi ini diridhoi Alloh wa Rosuulihi saw !. Mudah-mudahan membuahkan kemajuan yang sebanyak- banyaknya!.
Tadi sudah saya kemukakan kata Syekh Abdus-Salam bin Masyisyis. Beliau ini adalah gurunya guru dari pengarang kitab Hikam ini. Pengarang kitab ini, Syekh Ibnu ‘Athoillah punya guru yaitu Syekh Ibnu Abbas Al Mursi. Dan Syekh Ibnu Abbas Al Mursi punya guru yaitu Syekh Abil Hasan Asy-Syadzali. Dan Imam Syadzali gurunya adalah Syekh Abdus Salam bin Masyisy. Beliau inilah yang bersabda:

مَنْ دَلَّكَ عَلىَ الدُّنْيَا فَقَدْ غَشَّاكَ

“MAN DALLAKA ‘ALAD-DUNYA FAQOD GHOSYSYSSKA” ......
Barang siapa memberi petunjuk kepadamu soal dunia, maka dia itu sesungguhnya adalah orang yang menjerumuskan dirimu.

وَمَنْ دَلَّكَ عَلىَ الْعَمَلِ فَقَدْ اَتْعَبَكَ

“WAMAN DALLAKA ‘ALAL’ AMAL FAQOD AT’ ABAKA”.
Dan barang siapa yang memberi petunjuk kepadamu soal amal, soal amaliyah,
maka dia itu sesungguhnya orang yang hanya membikin engkau capek, payah,
letih.

وَمَنْ دَلَّكَ عَلَى اللهِ فَقَدْ نَصَّحَكَ

“WAMAN DALLAKA ‘ALALLOHI FAQOD NASHSHOHAKA”.
Dan barang siapa yang menunjukkan kepada Alloh, maka itulah orang yang benar-benar menasehati engkau.

اَلنَّصِيْحَةُ اِرَادَةُ الْخَيْرِ لِلْغَيْرِ

“AN-NASHIIHATU IROODATUL KHOIRI LILGHOIRI”.
Yang dinamakan nasehat, yaitu menghendaki dan otomatis mengusahakannya sekali kebaikan bagi orang lain. Itu nasehat. Ini tidak berarti kita tidak boleh memberi petunjuk soal dunia, soal ekonomi atau soal amal, bukan begitu. Tetapi yang dimaksud disini ialah, disamping kita memberi petunjuk atau memberi jalan soal ekonomi, soal dunia atau soal amaliyah-amaliyah, harus kita arahkan kepada FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW !. Harus mengarah kepada kesadaran kepada Alloh wa Rosuulihi saw. Sehingga dunia yang kita nasehatkan atau amaliyah yang kita anjurkan itu dapat dimanfaatkan oleh yang kita beri nasehat untuk kesadaran kepada Alloh wa Rosuulihi saw. Sehingga dunia yang kita nasehatkan itu, sehingga amaliyah-amaliyah yang kita anjurkan itu tidak disalahgunakan untuk nuruti kepuasan imprialis nafsunya. Menyalahgunakan amal kemudian dia merasa bangga dengan amaliyah-amaliyahnya itu. Ujub, takabbur dan sebagainya.

Jadi, disamping memberi soal rizki atau moril, terutama harus diberi juga jiwanya!. Jiwa materi atau moril tidak lain ialah kesadaran kepada Alloh wa Rosuulihi saw !. Sesuatu yang tidak ada jiwanya, berarti bangkai. Adanya Cuma menjijikkan dan baunya mencemarkan lingkungan sekelilingnya.

Para hadirin hadirot, kiranya pengajian pagi ini kita cukupkan sekian saja. Sekali lagi mudah-mudahan diridhoi Alloh wa Rosuulihi saw yang sebanyak-banyaknya, bifadlillahi wabisyafa’ati Rosuuliliahi saw, wabibarokati Ghoutsi Hadzaz Zaman wa A’waanihi wa saairi Ahbaabillahi rodiyallohu Ta’ala ‘anhum, sehingga membuahkan kemajuan yang sebanyak-banyaknya didalam perjuangan “ FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW !. Dalam segala bidang batiniyah !. Sedang penyiaran, bidang pemeliharaan, bidang peningkatan bidang dalam dan luar !. Semuanya itu perlu adanya kemajuan !. Lebih-lebih sesudah kita melaksanakan Mujahadah Kubro yang baru lalu, seharusnya kita harus jauh lebih maju dalam segala bidang !. Dalam perjuangan FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW!. Mudah-mudahan diridhoi Alloh Wa Rosuulihi saw, mendapat fadhol, hidayah taufiq yang sebanyak-banyaknya !.